Translate

Jumat, Oktober 05, 2012

Prinsip Dasar Keselamatan Kerja



Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun pekerja lain  di sekelilingnya, sehingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal.

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, di mana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal.

Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai (modal) awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-lain.

Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja.

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan para pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh factor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya.

Untuk mengantisipasi ganguan kesehatan bagi para pekerja, maka langkah awal yang penting adalah pengenalan / identifikasi bahaya yang bisa timbul dan dievaluasi, kemudian dilakukan pengendalian.


 Berikut adalah tiga langkah utama untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan timbulanya bahaya dilingkungan kerja yaitu :

1.   Pengenalan lingkungan kerja.

Pengenalan linkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal , dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.

2.   Evaluasi lingkungan kerja.

Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan.

3.   Pengendalian lingkungan kerja.

Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemaparan terhadap zat/bahan yang berbahaya di lingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang baik untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.


Kemudian tindakan pengendaliannya :

  • Pengendalian lingkungan ( Environmental Control Measures )
  • Pengendalian perorangan (Personal Control Measures )
Kenalilah Bahaya – Bahaya yang Mungkin Timbul dari  Pekerjaan yang Anda Lakukan, Agar Anda Terhindar dari Cidera

Selasa, September 11, 2012

Survey Seismik 2D, South Bangara II



Survei seismik 2D blok South Bengara II berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur Blok ini mencakup 6 (enam) kecamatan yaitu Kecamatan Tanjung Redeb, Kecamatan Gunung Tabur, Kecamatan Teluk Bayur, Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Pulau Derawan dan Kecamatan Segah yang meliputi 42 kampung atau kelurahan.
Di dalam area survei terdapat banyak perusahaan tambang, logging dan perkebunan diantaranya seperti PT. Bara Jaya Utama, PT. Berau Coal, PT. BBE (Berau Bara Coal), PT.NBC, PT. Rizki Kacida Reana, PT. Satu Sembilan Delapan, PT. WAP, PT. Tanjung Redeb Hutani, PT. Sungai Berlian Bahakti, PT. Rantau Panjang Utama Bakti, PT. Puji Sampurna dan PT. PPC (Pacific Prima Coal). Di sebelah timur base camp daerah survei seismik terdiri dari tambak, mangrove, hutan dan sungai-sungai lebar yang mengindikasikan daerah delta. Sungai yang lebar dan dalam menjadi resiko tinggi bagi surveyor yang melintas.Di sebelah utara terdiri dari hutan, tegalan, tambang batubara, persawahan, semak belukar dan sungai. Hutan bisa menjadi kendala akses masuk karena sebagian masih lebat dan  belum tersentuh manusia. Tambang batubara menjadi kendala karena noise yang ditimbulkan akan mengganggu recording dan juga proses izin untuk setiap kendaraan yang akan melintas.Di sebelah barat base camp terdiri dari kelapa sawit, tegalan, semak belukar, hutan, tambang batubara, dan sungai memotong arah lintasan survei.Secara umum belum banyak jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat masuk ke area lintasan, sehingga dianjurkan surveyor berjalan sepanjang lintasan seismik. Iklim akan mempengaruhi produksi pada musim hujan karena lintasan seismik akan banyak dijumpai genangan air dan jalan licin berlumpur, sebaliknya pada musim panas siang hari terasa sangat terik menyengat.
Hutan di Berau, Kalimantan Timur

rawa, berau, kalimantan timur
Tambang Batubara, Berau, Kalimantan Timur
 Permasalahan yang banyak terjadi di survey seismik di berau adalah akses jalan yang kurang, bila terjadi hujan jalan akses berlumpur sehingga tidak dapat dilalui oleh kendaraan. Perizinan ke daerah daerah tambang banyak memakan waktu yg cukup lama, juga harus mengikuti peraturan-peraturan oleh perusahaan tambang yang akan dilalui oleh kru.

Topography

Pengamatan GPS
Pengukuran line, Menggunakan Total Station (Leica)


 Rintis/Bridging

Kru rintis, membuat bridging di Rawa, Berau

 Drilling



Drilling, menggunakan Power Rig
 Recording
Kru Rojok
Shooter

Labo